Pesona Ibnu Arabi
Kehidupan Keluarga Ibn ‘Arabî
Pada saat Ibn ‘Arabî berumur 8 tahun, keluarganya pindah ke Sevilla. Peristiwa itu terjadi pada tahun 568 H. Di sanalah keluarganya menetap, ketika ayahnya bekerja sebagai aparatur pemerintah. Menurut al-Qârî al-Baghdâdî, ayahnya bekerja sebagai menteri penguasa Sevilla, Raja Maroko. Konon, Ibn ‘Arabî kemudian juga bekerja sebagai juru tulis pemerintah Sevilla. Ia kawin untuk pertama kalinya dengan Maryam binti Muhammad ibn ‘Abdûn ibn ‘Abd al-Rahmân al-Bîjâ’î, seorang perempuan dari keluarga terhormat.
Ibn ‘Arabî pernah bercerita tentang perempuan ini. “Seorang perempuan salehah, bernama Maryam binti ‘Abdûn, suatu kali berbicara kepadaku bahwa bermimpi bertemu seseorang yang mengajaknya menikah. Padahal, ia tidak pernah melihat seseorang lelaki di luar mimpi. Lelaki itu berkata kepadanya, ‘Apakah kamu sedang mencari jalan?’ Maryam menjawab, ‘Ya, benar, aku memang sedang mencari jalan. Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya.’ Lelaki itu berkata kepadanya, ‘Dengan lima hal: tawakal, yakin, sabar, gigih, dan jujur.’ Maryam menjelaskan mimpi itu kepadaku. Aku lalu berkata kepada Maryam, ‘Memang itulah keyakinan kita.’”
Di kota itulah Ibn ‘Arabî belajar ilmu fikih, hadis, qiraat, dan literatur lainnya kepada para guru besar di zamannya. Ia berhasil mendapatkan pengakuan (ijâzah) dari mereka.
Genologi Ibn ‘Arabî
Ia bernama lengkap Muhammad ibn ‘Alî ibn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Abd Allâh al-Hâtamî. Ia termasuk keturunan ‘Abd Allâh ibn Hâtim, saudara dari Uday ibn Hâtim dari kabilah Thay, yang menjadu tanah kelahiran pencerahan dan kecerdasan akal di masa jahiliyah dan Islam. Ibn ‘Arabî biasa dipanggil dengan “Abû Bakr” dan diberi gelar “Muhyî al-Dîn”. Ia juga dikenal dengan al-Hatimâ, atau dengan sebutan Ibn ‘Arabî bagi orang-orang Timur, untuk membedakan antara dia dengan Qâdhî Abû Bakr Ibn ‘Arabî.
Kelahiran dan Perkembangan Ibn ‘Arabî
Ia dilahirkan pada hari Senin, 17 Ramadan 560 H., bertepatan dengan 28 Juli 1165 M., di Murcia, Andalusia. Murcia sendiri sebetulnya kota yang dibangun oleh kaum muslimin pada masa Bani Umayyah. Ayahnya bernama ‘Alî ibn Muhammad, salah seorang pakar hadis dan fikih, ahli zuhud, takwa, dan pegiat tasawuf.
Kakeknya berkedudukan sebagai salah seorang hakim dan ulama di Andalusia. Ibn ‘Arabî tumbuh dalam lingkungan yang jernih, penuh takwa, dan berlimpah wara. Di sanalah ia tumbuh dan mendapatkan pendidikan awalnya. Ayahnya mendorongnya untuk belajar kepada Abû Bakr ibn Khalf, ketua ulama fikih saat itu. Ibn ‘Arabî mengkaji Alquran kepadanya dengan metode qirâ’at sab’ah. Belum genap usia 10 tahun, ia sudah menguasai, memahami, dan mendalami semua qiraat.
Pada masa-masa itu, Ibn ‘Arabî sering mendatangi salah satu sekolah yang mengajarkan ilmu-ilmu klasik. Sekolah ini diketahui sebagai satu-satunya yang mengajarkan disiplin ilmu bâthiniyyah dan penafsiran simbol. Sekolah itu bernama Madrasah Ibn Masarrah, yang wafat di Kordova pada tahun 319 H./931 M. Para orientalis mengenal pemikirannya melalui Ibn ‘Arabî. Salah seorang guru yang terkenal pada masa itu bernama Ibn al-Sharîf yang meninggal pada tahun 1141 M. Ibn ‘Arabî tidak pernah melihatnya, tetapi ia belajar dari buku-bukunya, juga muridnya, Abû ‘Abd Allâh al-Ghazzâl, yang juga sahabat Ibn ‘Arabî.
Etika Ibn ‘Arabî
Selama hidupnya, Ibn ‘Arabî jatuh hati pada kesederhanaan dan kejujuran. Ia membenci kepura-puraan dan memaksakan diri dalam segala hal. “Memaksakan diri itu sama dengan terbelakang (al-takalluf takhalluf),” kata para sufi. Oleh karenanya, ia lebih sering bercanda dan bersenda gurau. Menurutnya, tertawa itu salah satu bukti kekuasaan Tuhan. Tak heran bila ada asma Tuhan yang menjadi simbol dari hal ini, yaitu Yang Maha Sederhana (al-bâsith).
Syams al-Dîn ibn Masdî pernah bercerita tentang Ibn ‘Arabî dalam sebuah riwayat:
“Ia sosok yang tampan, memiliki keilmuan yang mendalam, menguasai sastra tak tertandingi, dan berpikiran progresif. Di masa mudanya ia belajar kepada Syaikh Zarqûn, al-Hafidz ibn al-Jadd, Abû al-Walîd al-Hadrami, dan Syaikh Abû al-Hasan ibn Nashr. Hanya itu hal penting yang diceritakan sejarah tentang masa muda Muhyî al-Dîn Ibn ‘Arabî.”[ ]







